Puisi Bagai Air Mengalir Tanpa Muara : Halimah Munawir

ilustrasi-puisi-halimah

Di penghujung khatulistiwa
Pena mengukir fana yang tak abadi
Dalam hujan bulan Juni
Mengikis hari nan penuh arti
Tak satupun mengerti
Rumah keabadian menanti

Hingga Elegi pagi
Ku dengar bunyi lonceng berhenti
Sunyi.
Saat bait demi bait terangkai kata
Menjamur di setiap kota
Subur membahana, engkau tiada.

Nyanyian rindu dalam kalbu
Ku dengar pada kelambu kelabu
Mengharu biru
Menghantarmu pada dunia baru
Yang fana adalah waktu
Mutiara biru, tetaplah biru

Nafas itu telah lepas dari raga
Jasad terkubur dibawah plang nama
Namun air terus mengalir,
dan mengalir tanpa muara.
Pada hati,
Pada jari jari.

Napak tilas dalam kata
Ba’ Romeo pada Juliet
Gemulai membelai jiwa
Pada rupa yang kau sapa
Di atas tinta penuh cinta
Tanpa air mata

Pasrah mu,
Atas Yang Maha Kuasa
Jika waktu tiba,
Sendiri pasti.
Tapi tidak dengan bait bait
Atas sang petualang kata.

Api pada lilin,
terus mengikis lalu padam
Tapi bait bait sajakmu
Bagai obor keabadian
Terus menyala dan menyala
Diantara kegelapan bumi.

Duhai guru,
Damailah dalam haribaanNya
Nikmati buah Surga
Atas petualangan kata
Yang akan abadi
bagai air mengalir tanpa muara.

Duren Sawit’ 2020

Puisi Lainnya

Tentang Halimah Munawir

Halimah Munawir adalah seorang pebisnis, novelis dan satrawan yang memiliki keperdulian sangat besar terhadap kelestarian seni budaya dan pendidikan  Indonesia 

Hiperlink Cepat

Kunjungi Media Sosial

Copyright © 2021, Halimah Munawir All rights reserved. Designed and SEO engineered by JoeLouisRock