Puisi Cinta Mati oleh Halimah Munawir

puisi-cinta-mati-oleh-halimah-munawir

1.

Ada satu, dua, tiga..bahkan ratusan raga tergeletak tanpa nyawa di Wuhan.
Menohok empati
Pada cinta mati
Annabella Woo pada sang kekasih hati
dalam tembok isolasi,
sendiri,
Badai paranoid,
Gelombang panik,
Takut mencekam ,
Terlucuti.

Kaki ramping model cantik
Annabella Woo, melenggang
menerobos lalu lalang
manusia yang panik bukan kepalang.
Tak mau nyawa melayang
Oleh virus corona yang menyerang
Di Kota yang selama ini mereka sayang.

Wajah cantik
Jari jemari lentik
Rambut mayang menarik
Rela mati andai harus mati
untuk cinta mati
Pada sang kekasih hati
Yang terisolasi di kota mati,
Wuhan.

Langit berharmoni
Seruling berbunyi,
Pada cinta mati yang terpatri
Di dinding hati,
Biarkan bintang berseri
Pada dua sejoli
Dalam kilau embun pagi
diantara raga raga yang mati

Basau hati Annabela Woo
Menikam jantung Corona
Lentera terus menyala
Pada cinta mati
33 hari terisolasi
Dalam bias wajah berseri
Dua sejoli .

2.

Cinta mati bukan milik dua sejoli.
Buka mata dan hati
Di garda depan dokter berdiri
Untuk raga agar tak mati
dengan diri siap mati.

Cinta mati ,
Dokter suster
Memecut diri
Tidak jadi pengecut
Yang hanya banyak mulut

Baju lapis berlapis macam kue lapis
Dengan pempers penampung pipis
Tidak membuatnya meringis
Haus hanya menelan ludah
Taka ada lapar diantara mereka yang terkapar

Cinta mati
Pada janji profesi
Mengharu biru
Air mata bercucuran
Ba’ hujan dari awan kelabu
Anak , suami , ibu , bapak meratap pilu

Cinta mati
Memplontos mahkota
Yang kau puja
Dan membuatmu jelita
Kau bilang, tak cantik tak apa
Asal tak hilang nyawa
Demi sebuah nyawa

Duren Sawit ‘2020

Puisi Lainnya

Tentang Halimah Munawir

Halimah Munawir adalah seorang pebisnis, novelis dan satrawan yang memiliki keperdulian sangat besar terhadap kelestarian seni budaya dan pendidikan  Indonesia 

Hiperlink Cepat

Kunjungi Media Sosial

Copyright © 2021, Halimah Munawir All rights reserved. Designed and SEO engineered by JoeLouisRock